pernahkah kamu, anda, lo, atau siapapun yang membaca blog ini, memikirkan suatu hal atau bahkan merenungkan suatu hal saat duduk di mobil menghadap kaca atau bahkan ketika buang air besar sekalipun di toilet? saya tahu anda pernah, dan saya memikirkan suatu hal yang sama seperti judul post saya kali ini. how time flies.
saya sudah putus dari seseorang yang menemani saya selama lebih dari 2 tahun, dan bulan ini adalah bulan ke-6 dari perpisahan kami.
it's still recorded very clearly how the first time we met, the first time we knew each other. dan ternyata itu sudah berlalu sangat lama, sudah 3 tahun yang lalu.
lucu ya, dulu semuanya terasa begitu indah. jatuh cinta pada orang yang juga jatuh cinta pada anda.
it's like the best feeling ever.
ketika awal-awal pendekatan, sms dari dia bahkan adalah satu hal yang sangat saya tunggu.
he become the very first person i want to share everything with, intinya begitu.
lalu ketika saya merasa pendekatan itu sudah cukup lama, saya merasa ingin mempunyai hubungan yang lebih, i want him to be mine, to company me, to be my boyfriend.
awal-awal hubungan pun terasa sangat indah, seperti saya hanya ingin menghabiskan waktu sama dia, ketemu dia, pokoknya sama dia.
eventho we argue over unimportant things like everytime, we can get through of those everyday.
eventho we broke up once, we always had our way back at the end.
salah saya ketika dalam berhubungan adalah saya selalu berpikir bahwa dia adalah seseorang yang akan menikah dengan saya.
i gave my all, i love deeply.
saya bahkan sempat mengira bahwa saya akan kembali pada dia tidak lama setelah kami putus.
tapi ternyata salah.
the universe doesn't espouse me.
its really hard for me to get through it everyfuckingday.
saya bahkan mencoba sms dia berkali-kali bahwa saya masih ingin kembali bersama dia.
it was like,
Your mind says, “I deserve more, this relationship is not right.”
Your heart says, “Stay, it will work out.”
dan ketika saya putus, saya sadar, saya sangat berkegantungan pada dia.
tapi ada satu hal yang saya percaya, he'll fade as the time goes, and he is.
saya saat ini juga lebih menghargai teman-teman saya.
saya merasa mereka benar-benar ada untuk saya ketika saya bahagia ataupun sedih.
eventho the memories of him never really fade, but one thing for sure is i never shed a tear for him anymore.
saya juga masih berpikir like, why did it have to happened and why did it all have to end?
but I know that God wanted me to learn from my mistakes.
dia yang dulu saya tunggu sms-nya, sekarang sudah tidak.
dia yang dulu selalu ingin saya kabari pertama kali, sekarang sudah tidak.
dia yang dulu yang selalu ingin saya ajak untuk menghabiskan akhir pekan bersama, sekarang sudah tidak.
kami yang dulu saling menyayangi, sekarang sudah tidak.
we became strangers, how ironic.
but that didn't mean what we had wasn't real and we didn't love each other, maybe when people grow they grow apart. feelings change. i'm not special anymore like i was.
tapi jujur, sometimes he still pop-up inside my head out of nowhere, like when I watched movie by myself, I feel like he should be here and it feels like punch me right to the chest.
my heart still aches, but if someone asked, "Do you want him back?", I'd said, "No, I love him, but I love myself more."
so, that's all. and if you're getting close with someone else now, I'm happy. I'm happy when you're doing fine, eventho the theory never as easy as the practice, I convince myself that I'm healing one day at a time.
xx,
Elsagina
No comments:
Post a Comment